Ramadhan di Hati
Penulis : eL Ramadhan
Pokoknya mulai pekan ini cerita keseharian kita semua harus di isi dengan kebaikan dan kegembiraan. Tak ada lagi cerita sedih apalagi cerita suram. Bulan Ramadhan harus kita sambut dan lalui dengan kegembiraan penuh.
Stop bicara tentang yang tidak baik. Mari berusaha menjaga keberkahan dan kesucian bulan Ramadhan. Kata orang-orang ketika semua manusia hanya membicarakan yang baik-baik saja maka bumi ini akan panjang umurnya.
Kata seorang pujangga wangi bunga akan menyebar mengikuti arah angin namun kebaikan akan menyebar kesegala penjuru arah. Oleh karena itu ketika semua manusia hanya membicarakan kebaikan maka kebaikan itu akan membuat bumi manusia ini menjadi tempat yang nyaman disegala sudut kehidupan.
Memang cerita hidup tak selamanya baik tapi menyikapinya harus dengan cara baik. Bisa jadi ada makna kebaikan dalam setiap cerita kesuraman hidup yang kita dapati.
Pekan lalu cerita suram dari dunia perbankan dunia disuguhkan dalam wadah informasi masyarakat dunia. Bank Sillicon valley kolaps membauat warga Amerika panik. Dunia merasa was-was akan kena dampaknya.
Pejabat keuangan di Negeri ini sudah sangat baik mengantisipasinya. Mereka dengan segera menetraliris pasar keuangan dalam negeri dengan mengatakan apa yang terjadi di Negeri adidaya tak akan berpengaruh signifikan.
Ini adalah statement yang baik. Saya rasa pernyataan-pernyataan yang menenangkan bisa jadi adalah salah satu cerita baik dan kita selalu butuhkan kedepan.
Para pejabat negeri setidaknya tidak akan membawa kengerian baru namun menyuntikkan semacam harapan yang rasional tentu saja.
Kolapsnya perbankan AS justru membawa cerita baik. Harga emas menjulang tinggi. Arus modal masuk kedalam negeri sebagai emerging market cukup besar.
Pernyataan tentang ekonomi dunia dan optimisme pejabat adalah usaha untuk menghadirkan kebaikan dengan cara lain.
Didunia politik negeri ada harapan besar bagi kita agar para politisi segera menghentikan intrik-intrik yang dapat merusak suasana Ramadhan.
(Bersambung)

Komentar
Posting Komentar