Jepang Minidoka
![]() |
| Ilustrasi : Wanita Jepang |
Penulis : eL Ramadhan
Energi yang dihasilkan oleh kincir angin itu adalah energi terbarukan. Lebih ramah lingkungan dan bisa mengurangi dampak pemanasan global. Amerika sadar akan hal itu, apalagi Negara sekutu Israel ini adalah penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia.
Pemerintahan Biden kemudian dengan gencar membuat proyek kincir angin di Negaranya. Salah satu proyek bernama Lava Ridge Wind Project. Proyek ini ditarget mulai beroperasi tahun 2026 dan menjadi terbesar kedua di Amerika.
“Proyek pembangkit listrik tenaga angin terbarukan adalah komponen penting dari komitmen pemerintahan Biden-Harris untuk menghadapi perubahan iklim, mempromosikan udara dan air bersih untuk generasi kita saat ini dan masa depan, menciptakan ribuan lapangan kerja dengan gaji yang baik, dan memulai transisi negara kita menuju energi bersih. energi masa depan,” kata Menteri Dalam Negeri AS Deb Haaland dalam sebuah pernyataan.
Masalahnya, lokasi pembangkit listrik tenaga angin ini terletak di daerah Minidoka negara bagian Idaho. Daerah ini adalah situs bersejarah perang dunia II yang ditetapkan pada Tahun 2001 dengan nama Minidoka Internment National Monument.
Sejarahnya begini, Dua bulan setelah serangan Jepang terhadap Pearl Harbor pada 7 Desember 1941, Presiden Franklin D. Roosevelt menandatangani Perintah Eksekutif bernomor 9066.
Sekitar 120.000 orang keturunan Jepang diambil dari rumah mereka dan dipenjarakan di kamp-kamp karena berpotensi menjadi ancaman terhadap AS. Orang Amerika keturunan Jepang ini telah tinggal di Amerika sekitar 100 Tahun lebih lamanya dan merupakan generasi kedua.
Mereka diangkut ke Minidoka. Kebanyakan lanjut usia, orang cacat, anak-anak atau bayi. Saat ditangkap, Keluarga-keluarga yang putus asa menjual harta benda dan mengemas apa yang mereka bisa.
Di Minidoka, mereka tinggal di barak kayu yang dilapisi terpal, menghadapi panasnya musim panas dan dinginnya musim dingin di gurun terpencil dan tinggi seluas 50 mil persegi (130 kilometer persegi).
Di bawah menara penjaga bersenjata, warga Minidoka bekerja di ladang bercocok tanam dengan upah kecil. Namun mereka membangun komunitas di tempat yang pada dasarnya adalah kamp penjara.
Mereka mengorganisir gereja dan menanami kebun. Mereka menciptakan berbagai macam kota dengan toko, bengkel jam tangan dan radio, klinik kesehatan, tempat pangkas rambut, gelanggang es, kolam renang, dan berlian bisbol.
Saat ini, hanya sedikit bangunan asli yang tersisa sebagai pengingat akan sebuah babak dalam sejarah AS yang telah dihapuskan oleh pemerintah sebelum mengeluarkan reparasi dan menetapkan kamp-kamp tersebut sebagai situs bersejarah nasional beberapa dekade kemudian.
Pemerintah AS sendiri telah menyatakan permintaan maaf secara oficial kepada interniran (sebutan untuk tawanan dalam kamp) dan mengatakan kebijakan saat itu adalah "kesalahan besar" yang dilakukan.
Dengan sejarah seperti itu, penolakan terhadap proyek Biden ini terjadi dimana mana termasuk dalam gedung parlemen Amerika.
“Saya tidak bermaksud memihak dalam sejarah,” kata anggota Partai Republik dari Idaho, Jack Nelson. “Tetapi alasan kita mempelajari sejarah adalah agar kita tidak melakukan hal-hal seperti itu lagi.” katanya dengan tegas menolak.
Proyek ini dikerjakan LS Power. Perusahaan yang memang terkenal investasinya dalam energi terbarukan. Perusahaan ini juga melalui anak perusahaanya telah memulai kerjasama dengan Pemerintah Indonesia.

Komentar
Posting Komentar