Quo Vadis Cinta



Penulis : eL Ramadhan

Agak canggung memang membicarakan cinta disaat wacana media sosial saat ini dipenuhi oleh wacana politik, hukum, kriminal dan sedikit berita alay yang diviral-viralkan.

Saya sengaja mengajak untuk membahas topik ini disela sela serangan informasi modern yang berkelindan setiap detiknya, dimana semua informasi yang menjejali pikiran kita itu bisa memberi dampak kepada banyak hal.

Wacana politik misalnya, hari ini semakin banyak berseliweran. Bercampur antara kebenaran dan kepalsuan. Gemuruh politik hari ini mengarahkan setiap orang untuk jauh dari kasih sayang, mendekatkan diri kita pada perselisihan, dendam dan permusuhan. Politik hari ini semakin jauh dari cinta. Cinta yang oleh Jalaludin Rumi dikatakan bisa mengubah kekasaran menjadi kelembutan.

Wajah politik yang beringas itu akan menampakkan kelembutan jika diberi sentuhan cinta. Politik cinta adalah politik hati nurani. Tak ada kawan dan musuh abadi, yang ada adalah cinta.  Keberpihakan kepada cinta, kepada yang tertindas, kepada kebijakan atas nama cinta.

Tema cinta adalah tema abadi. Manusia selalu menghadirkan cinta dalam perjalanan bersejarahnya. Kisah tentang cinta banyak terekam dalam kehidupan nyata maupun dalam hayalan banyak penulis roman dengan karya legendaris yang bisa kita nikmati hingga hari ini. 

Untuk memahami bagaimana hadirnya cinta bisa membawa dampak dalam kehidupan manusia,, maka kita perlu memperjelas makna cinta sesungguhnya. Apa itu cinta? Apakah hari ini cinta masih tersisa dalam diri manusia sebagai pribadi maupun sebagai makhluk sosial? Apakah cinta adalah anugerah atau sesuatu yang perlu di usahakan? Apa kabar cinta hari ?

Erich Fromm, filsuf berkebangsaan Jerman mengatakan hadirnya cinta bukanlah anugerah tetapi perasaan subjektif yang harus dipelajari dan dihadirkan dalam diri. Sebab, jika cinta tidak dihadirkan, dia akan tergerus oleh ego yang meluas.

Fromm membagi objek cinta pada 4 hal

Pertama, 


(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bani Firaun

Sup Cantik

CABOISME